Nah, ngomongin soal toleransi yang di bulan Desember ini selalu salah
kaprah, kita juga jadinya bodoh, karena dibodohi melalui praktek
langsung yang dilakukan pihak tertentu, maupun opini melalui media
massa. Kok bisa? Silakan tengok di swalayan menjelang Natal, karyawan
dan karyawatinya ‘dipaksa’ pake kupluk Santa. Tahu kan? Iya, yang itu.
Kamu tahu tuh! Memangnya itu nggak boleh? Lha, kamu selama ini ke mana
aja? Belajar akidahnya belum selesai kali ya? Atau sering bolos, jadi
nggak ngeh? *nuduh-nuduh nih!
Ya, mengenakan kupluk Santa bagi karyawan atau karyawati muslim di
tempatnya bekerja (biasanya di swalayan atau minimarket) bukanlah bentuk
toleransi. Tetapi itu malah merupakan bentuk mencampurkan antar
keyakinan. Nggak boleh. Justru kalo sesuai dengan arti toleransi, ya
membiarkan saja atau tidak mengganggu keyakinan agama masing-masing.
Tidak memaksa yang muslim kudu pake kupluk Santa. Itu artinya, kalo
kemudian karyawan dan karyawati yang muslim di toko tersebut dipaksa
mengenakan kupluk Santa, ya namanya ngajak berantem. Sebab, sudah masuk
ke ranah akidah. Bahwa yang muslim dipaksa mengenakan atribut Natal,
yang sebenarnya nggak boleh dikenakan karena sudah urusan akidah. Ini
jelas pemaksaan. Nggak bisa dibiarkan.
Selain pemaksaan mengenakan atribut Natal berupa
kupluk Santa, ada juga yang menganggap bahwa mengucapkan selamat natal
adalah bagian dari toleransi. Hadeeeuuh… ini juga pembodohan dan kamu
jangan mau dibodohi. Ini termasuk toleransi yang salah kaprah.
Ini ada sebuah cerita berupa perumpamaan yang menarik. Sudah tersebar
luas di berbagai grup diskusi media sosial. Mau tahu ceritanya? Ini
dialog seorang muslim dengan orang kristen (yang diwakili dengan nama
David).
Muslim: “Bagaimana natalmu?”
David: “Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku?”
Muslim: “Tidak. Agama kami menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu. Tapi urusan ini, agama saya melarangnya.”
David: “Tapi kenapa? Bukankah hanya sekadar kata-kata? Teman-teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku.”
Muslim: “Mungkin mereka belum mengetahuinya, David. Bisakah kau mengucapkan dua kalimat Syahadat?”
David: “Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya.”
Muslim: “Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo, ucapkanlah!”
David: “Sekarang, saya mengerti…”
Inilah yang menyebabkan Buya Hamka memilih meninggalkan jabatan dunia
sebagai Ketua MUI ketika didesak pemerintah untuk mengucapkan “Selamat
Natal” yang meskipun anggapan hanya berupa kata-kata keakraban/toleransi
namun di sisi Allah Ta’ala nilainya justru menunjukkan kerendahan
akidah seorang hamba yang tidak paham atau tidak mau mengerti akan
konsep ilmu agama yang di sisi lain paham akan ilmu-ilmu umum yang
sifatnya tiada kekal, tak berimbas akan keselamatan akhiratnya yang
abadi.
Sobat gaulislam, catat ya. Ini penting. Jangan mau dibodohi lagi
dengan slogan toleransi tetapi salah. Akibat kesalahan terus berulang,
jadinya dianggap lumrah, jadi salah kaprah. Bahaya banget tuh!
Bagiku agamaku, bagimu agamamu
Andai saja semua agama itu sama, maka tak ada yang namanya perbedaan.
Andai saja semua agama itu benar, tak perlu ada yang ngotot ingin benar
sendiri. Andai saja semua agama itu menyembah Tuhan yang sama, nggak
perlu ada pertumpahan darah atas nama agama. Andai saja semua agama itu
menuju ke jalan yang sama, tak perlu ada kitab suci yang berbeda. Tapi
fakta dan sejatinya memang berbeda kok. Justru pertanyaan saya: kenapa
harus dipaksakan untuk disamakan?
Sayangnya, sekarang banyak upaya-upaya yang menjurus ke arah sana
dengan alasan perdamaian dunia. Karena menurut para penggagasnya,
seluruh agama akarnya satu, yakni dari sang pencipta, sehingga mereka
berdalil: “Kenapa harus berbeda? Berbeda itu bikin konflik dan itu
sangat berbahaya!”
Tapi yang jelas, kalo kita mau berpikir lebih dalam lagi (gali sumur
kali!), kita justru akan menemukan bahwa masing-masing agama memang
beda. Beda banget. Bahkan bukan hanya beda, tapi juga bertentangan, dan
bahkan saling menentang satu sama lain.
Itu sebabnya, tentu nggak bisa mendefinisikan atau membuat pernyataan
yang cuma berdasarkan logika dan hawa nafsu kita. Tapi kebenaran adalah
muncul dari yang membuat kebenaran itu sendiri, yakni pencipta kita,
Allah Ta’ala. Karena kalo kebenaran diserahkan kepada masing-masing
manusia, maka yang muncul bukan kebenaran, tapi pembenaran. Udah gitu
miskin makna dan kaya dengan salah persepsi.
Ngomongin soal agama kata sebagian kalangan dianggap
sensitif. Saking sensanifnya, eh, sensitifnya maka kita nggak boleh
ngomongin agama secara vulgar di tempat umum. Misalnya, kamu nanya sama
teman kamu di sekolah dalam forum umum: “Agama kamu apa?” Wuih, kayaknya
kita dianggap arogan atau sok, atau dicap sebagai orang yang
melontarkan pertanyaaan dengan nada sentimen atau tendensius serta SARA
dan macam-macam pikiran lainnya.
Kenapa? Karena kita terbiasa menabukan hal tersebut. Dianggap bahwa
agama adalah urusan masing-masing individu. Nggak boleh ada individu
lain yang mempertanyakan dan mempersoalkan status agama seseorang.
Alasannya, kita diminta menjunjung kebersamaan. Jadi jangan heran pula
kalo kemudian muncul istilah toleransi, anak bangsa, dialog lintas agama
dan iman, dan lain sejenisnya untuk mengkampanyekan tentang pentingnya
persamaan. Padahal jelas sangat berbeda jauh. Wong dasarnya juga beda kok. Jadi apa yang mau disamakan? Betul ndak? Semoga kamu bisa memahaminya.
Oya, karena saat ini banyak kaum kaum muslimin yang mulai kendor
ikatannya dengan ajaran Islam, ada pula yang bahkan sudah melawan setiap
ajaran yang ada dalam Islam, juga banyak yang berupaya menyamakan Islam
dengan agama yang lain, maka saya merasa perlu untuk menjelaskan
(semoga saja mencerahkan), tentang masalah ini. Saya ingin menegaskan
bahwa Islam emang beda dengan agama yang lain. Jadi, nggak bisa pula
keyakinan kita digeser-geser dan dipindah-pindah ke tempat lain
(digeser-geser? Emangnya pot bunga?)
Islam, satu-satunya agama yang benar
Sobat gaulislam, kalo kamu berani mengatakan seperti pada subjudul
ini, syukur deh. Kenapa? Karena masih punya harga diri dan sekaligus
percaya diri. Harga diri itu mahal, jarang ada yang rela kalo harga
dirinya diinjak-injak (kecuali yang nekat dan gelap mata dengan menjual
dirinya sendiri dalam kenistaan). Kebanyakan orang kalo bicara harga
diri semangat dan antusias. Harga diri harus dipelihara karena urusan
hidup dan mati.
Percaya diri berarti kita percaya dengan apa yang kita perbuat. Orang
yang berani melakukan suatu perbuatan dan kegiatan, sudah pasti
bertanggung jawab. Itu sebabnya, dengan memiliki rasa percaya diri bisa
dipastikan orang tersebut udah punya alasan dan tanggung jawab atas apa
yang diperbuatnya.
So, Islam memang beda. Beda banget dengan agama lain. Nggak
bisa disamakan. Nggak bisa disatukan. Karena ibarat air dengan minyak,
maka Islam nggak bisa dicampur dengan ajaran agama lain. Akan saling
menolak dalam hal prinsip. Akan saling bertentangan dalam masalah
akidah. Tidak ada kompromi dalam urusan syariat antara Islam dan agama
lain.
Sekarang coba kita bandingkan mulai dari yang sangat prinsip: yang
disembah. Kita, kaum muslimin, cuma menyembah Allah Ta’ala. bukan yang
lain. Sementara agama lain, Nasrani misalnya, mereka punya konsep
trinitas. Ajaran lain juga sama, menyekutukan Allah. Jelas beda kan?
Firman Allah Ta’ala: “Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan
langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang
kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” (QS al-An’aam [6]: 1)
Allah Ta’ala juga berfirman yang menegaskan bahwa hanya Islam yang
benar, yakni dengan tidak menerima agama selain Islam. Bahkan rugi
banget orang yang mencari agama selain Islam, “Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk
orang-orang yang rugi.” (QS Ali ‘Imran [3]: 85)
Dalam pernyataan lebih jelas dan tegas, Allah Ta’ala menyebutkan (yang artinya): “Sesungguhnya
telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al
Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani
Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi
orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (QS al-Maaidah [5]: 72)
Nah, kalo dari akarnya aja udah beda, maka batang, ranting, daun,
bunga dan buahnya jelas berbeda dong. Tul nggak? Lagian kita belum
pernah tuh denger ada pohon mangga berbuah durian (mungkin Om Broery aja
yang pernah mendendangkan lagu yang ada liriknya “buah semangka berdaun
sirih”!)
Maka sangat wajar dan adil jika Allah Ta’ala aja mengajarkan bahwa
keyakinan kita berbeda dengan keyakinan agama lain. Itu sebabnya, jangan
bingung pula kalo syariatnya juga beda. Maka, apa hak kita menyatakan
bahwa semua agama sama? Sehingga kita merasa kudu terlibat dan
melibatkan diri dalam ibadah agama mereka. Bahkan hal itu dianggap
wajar. Waduh, hati-hati!
Bener lho, saking nggak ngertinya, ada sebagian dari kita yang latah
ikutan perayaan natal bersama, misalnya. Malah dengan semangat dan gagah
berani biar dianggap toleran menyambut dan menyampaikan ucapan selamat
kepada mereka dan mengenakan atribut perayaan Natal macam kupluk Santa.
Ah, itu namanya sudah salah menempatkan toleransi dong. Karena dalam
urusan keimanan dan ibadah ini, yang disebut toleransi itu ya membiarkan
atau tidak mencampur-adukkan keyakinan (akidah). Sebaliknya, kita kudu keukeuh memegang prinsip. Allah Ta’ala udah wanti-wanti soal ini dalam al-Quran (yang artinya): “Katakanlah:
“Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula)
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan
untukkulah, agamaku.” (QS al-Kaafiruun [109]: 1-6)
Nah, mulai sekarang, yuk sama-sama kita kaji Islam, pahami, dan
amalkan.

0 comments
Post a Comment