Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah Saw. Berkata dalam majelis,
“Dipintu ini akan masuk seorang ahli surga.” Tak lama kemudian ada orang
yang masuk melalui pintu yang telah diisyaratkan. Sahabat tersebut
bernama Saad bin Abi Waqqash. Kejadian itu terulang hingga tiga kali.
Sahabat lain yang bernama Abdullah bin Amr r.a. penasaran. Apa
keistimewaan Saad? Lalu dia meminta izin menginap dirumah Saad. Dengan
senang hati Saad memberinya izin.
Selama beberapa hari dirumah Saad, Abdullah bin Amr tidak melihat
kelebihan ibadah Saad. Boleh dikatakan, biasa-biasa saja. Kata Abdullah,
“Aku ingin mengetahui yang engkau lakukan hingga Rasulullah Saw. Pernah
menyebut tiga kali bahwa ada seorang penghuni surga dalam majelisnya.
Aku ingin mendapat kedudukan sepertimu. Namun, selama tiga hari ini aku
tidak mendapatimu berbuat sesuatu yang istimewa, apa rahasianya?”
Semula Saad menjawabnya dengan wajar, “Tidak ada yang lebih baik dari
yang kamu lihat.” Abdullah lalu berpamitan, tetapi langkahnya terhenti
ketika Saad memanggilnya, “Sahabatku, aku tidak memiliki rasa dengki dan
aku tidak pernah berbuat jahat dan berkata buruk kepada siapa pun.”
Abdullah bin Amr pun paham itulah kunci mengapa Saad dirindukan surga.
Saat orang lain sukses, rasa iri bisa berkecamuk. Apalagi jika dia
adalah musuh yang selama ini dibenci. Al-Quran menyebut iri dengan
kalimat. Jika kamu semua mendapatkan kebaikan, hal itu tidak mengenakan
hati mereka. Sedang jika kamu semua mendapat kejelekan, dengan sebab
kejelekan itu mereka pun bergembira (QS Ali Imran [3]: 120).
Penyakit yang tidak mengenal batas gender ini bisa mengubah cinta
menjadi benci, merusak kedamaian dan mengubahnya menjadi permusuhan.
Diingatkan Rasulullah Saw. Dalam hadis, “Waspadalah terhadap hasud (iri
dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api
memakan kayu” (HR Abu Dawud).
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 107-108:
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga
Firdaus menjadi tempat tinggal, (*) Mereka kekal di dalamnya, mereka
tidak ingin berpindah dari padanya. (QS Al-Kahfi: 107-108).
Rasulallah SAW bersabda, sebagaimana
disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits riwayat Abu
Hurairah, (Allah berfirman, Aku telah mempersiapkan untuk
hamba-hamba-Ku yang shalih surga yang (kenikmatannya) belum pernah ada
mata yang telah melihat, dan tidak pernah ada telinga yang telah
mendengar maupun telah terdetik di hati manusia).
Dengan
kasih Allah dan rahmat-Nya kepada kita, Dia telah membentangkan
gambaran surga yang nikmat itu, dengan menekankan keabadian dan
kesempurnaan, tanpa kekurangan sedikitpun, tidak panas atau dingin,
tidak lelah dan tidak sibuk dengan hiruk pikuk, tak ada kerugian, tidak
ada yang dicurangi. Sekali teguk kenikmatan di surga melupakan semua
penderitaan dalam hidup ini. Timbul pertanyaan, mengapa semua ini
diceritakan wahai hamba-hamba Allah? Hal ini semata untuk mengajak
orang-orang beriman ke surga dengan penuh semangat. Agar mereka
bergegas menuju berbagai kebahagiaan, taman dan segala istananya.
Sebab surga adalah tempat tinggal yang Allah ciptakan dengan tangan-Nya
sendiri, dipersiapkan sebagai rumah untuk orang-orang yang
dicintai-Nya agar mengisinya dengan rahmat, kemuliaan dan ridha-Nya.
Dia menggambarkan kenikmatannya sebagai kemenangan besar, pemiliknya
sebagai raja diraja, segala kebaikan dan kemurniannya dijaga dari
setiap cacat dan kekurangan. Celakalah jiwa-jiwa yang tidak
menginginkan hal itu, tidak ingin melihatnya, dan tidak berusaha untuk
masuk ke dalamnya!

0 comments
Post a Comment